Archive for February, 2011

Teaching Plan Behavioral Accounting 2011

TEACHING PLAN

Subject : Behavioral Accounting
Subject Description: Behavioral accounting is an approach to the study of accounting that emphasizes the psychological and social aspects of the profession in addition to the more technical areas.
Year: 2011
Instructors
1. Mr. Agung Praptapa, mobile: 0811281199, email: praptapa@yahoo.com
2. Mr.Yudha Aryo Sudibyo, mobile: 081542828910, email: yudha_aryos@yahoo.com
3. Ms. Dona Primasari, mobile: 081377771222, email: dona_primasari@yahoo.com
Text
Siegel, Gary & HR Marconi, 1989, Behavioral Accounting, Cincinnati: South Western Publishing [SM]
Journal
Behavioral Research in Accounting (BRIA)
International Journal of Behavioural Accounting and Finance (IJBAF)
Elearning Web Blog:
www.agung-praptapa.blog.unsoed.ac.id and www.apbehavioralaccounting.blogspot.com
Email to collect assignment: elearningmrap@gmail.com

Weekly Session:
Week 1: Foundation of Behavioral Accounting
Week 2: Financial Control
Week 3: Behavioral Aspects of Responsibility Accounting
Week 4: Behavioral Aspects of Profit Planning and Budgeting
Week 5: Behavioral Aspects of Accumulating and Controlling Costs
Week 6: Behavioral Aspects of Performance Evaluation
Week 7: MID TEST
Week 8: A Behavioral Interpretation of Decentralization
Week 9: The Behavioral Dimensions of Internal Control
Week 10: The Behavioral Patterns of Auditors
Week 11: Behavioral Aspects of Financial Accounting and Reporting
Week 12: Human Resource Accounting
Week 13: Social Accounting
Week 14: FINAL TEST

You can download this Teaching Plan here:
TEACHING PLAN BEHAVIORAL ACCOUNTING 2011

Posted by on February 28th, 2011 47 Comments

Tugas 1 Management Strategi Kelas Akuntansi (Selasa)

Setiap mahasiswa diminta untuk membuat soal beserta jawabannya, yang bersumber dari Chapter 2. Agar di post disini sebagai comment. Paling lambat dikumpulkan satu hari sebelum kelas berikutnya. Tujuan dari Saudara diminta membuat soal jawab adalah untuk memastikan bahwa Saudara membaca chapter sebelum kelas. Jangan lupa mencantumkan nama dan NIM Saudara.

Terimakasih.

AP

Posted by on February 28th, 2011 243 Comments

Teaching Plan STRATEGIC MANAGEMENT (Accounting Class)

Week 1: Strategic Management and Strategic Competitiveness
Week 2: The External Environment: Opportunities, Threats, Industry Competition, and Competitor Analysis
Week 3: The Internal Environment: Resources, Capabilities, and Core Competencies
Week 4: Business-Level Strategy
Week 5: Competitive Rivalry and Competitive Dynamics
Week 6: Corporate-Level Strategy
Week 7: MID TEST
Week 8: Acquisition and Restructuring Strategies
Week 9: International Strategy
Week 10: Cooperative Strategy
Week 11: Corporate Governance
Week 12: Organizational Structure and Controls
Week 13: Strategic Leadership & Strategic Entrepreneurship
Week 14: FINAL TEST

Posted by on February 27th, 2011 38 Comments

Assignment 1 International Class: Strategic Management

Every student is required to make question and answer related to the chapter for next session. Since the next session is about External Environment Analysis (Chapter 2) so you have to make one question from Chapter 2 and write the answer also. No one has the same question.

The purpose of this assignment is to make sure that you READ THE CHAPTER BEFORE CLASS.

Please post your question and the answer here as comment. The latest is one day before class.

Posted by on February 27th, 2011 158 Comments

Tugas Akuntansi Manajemen MAKSI 2011

183037_10150103079609927_632204926_5867393_5167022_s

Mahasiswa MAKSI Angkatan 2011 yang mengambil mata kuliah AKUNTANSI MANAJEMEN diminta membuat paper antara 5 sampai 10 halaman dengan topik yang telah ditentukan. Pada prinsipnya setiap mahasiswa telah mendapatkan topik yang menjadi bagiannya (yang ditentukan pada saat kuliah).

Topik yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
1. Mengenal Akuntansi Manajemen
2. Konsep Akuntansi Manajemen
3. Perilaku Biaya Aktivitas
4. ABC
5. Job Order Costing
6. Process Costing
7. Alokasi Biaya
8. Penganggaran Berbasis Aktivitas
9. Standard Costing
10. Akuntansi Pertanggungjawaban
11. Biaya Kualitas
12. Biaya Lingkungan
13. Evaluasi Kinerja
14. International Issues in Managerial Accounting
15. Segmwnt Reporting and Performance Evaluation
16. Cost-Volume-Profit Analysis
17. Pengambilan Keputusan Taktis
18. Pengambilan Keputusan Investasi Modal
19. Management Inventory

Pilihlah salah satu topik (sebagian besar sudah dibagi dalam perkuliahan) kemudian bahaslah salah satu elemen yang Sudara anggap penting untuk diangkat. Ingat, Saudara tidak sedang membuat ringkasan kuliah, tetapi membuat pembahasan tentang topik tertentu. Daftarkan judul paper Anda disini sebagai comment. Janagn lupa tulis nama dan NIM.

Tugas dikumpulkan melalui email ke: elearningmrap@gmail.com paling lambat 13 Maret 2011.

Selamat berkarya!

AP

Posted by on February 26th, 2011 66 Comments

Menulislah!

Oleh: Agung Praptapa

Sewaktu kuliah saya sangat kagum kepada seorang dosen yang kalau memberikan kuliah sangat atraktif, mudah dimengerti, dengan contoh kasus yang sangat relevan dan terkini. Beliau pintar bercanda sehingga selama mengikuti kuliah hampir semua mahasiswa tetap segar dan semangat. Beliau dosen yang dikagumi banyak mahasiswa. Terkenal. Menjadi konsultan di sana-sini. Sebagai pembicara di dalam dan di luar negeri. Dosen ideal. Luar biasa!

Sayang sekali dosen yang hebat tersebut sekarang telah meninggal dunia. Masih membekas pesan-pesan dan motivasi beliau pada diri saya. Demikian pula saat saya tanyakan kepada teman-teman kuliah dulu, mereka memiliki kesan yang sama. Dosen tersebut telah banyak membantu membentuk diri kita semua yang pernah diajar oleh beliau. Namun sayang, saat saya tanyakan kepada adik kelas yang sudah tidak lagi diajar oleh beliau, mereka bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Apa lagi menikmati pemikiran-pemikiran dan pesan-pesan hebat beliau. Jadi, pesan-pesan hebat dosen tersebut hanya sampai pada generasi saya. Dosen yang hebat untuk yang pernah diajar, namun tidak dikenal sama sekali oleh yang tidak pernah diajar.

Saya kemudian berpikir, seandainya dosen tersebut menulis buku, maka pemikirannya, motivasinya, dan kata-kata bijaknya dapat dinikmati oleh generasi-generasi adik kelas saya, bahkan generasi-generasi sesudahnya. Sayang sekali, dosen tersebut tidak menulis buku. Beliau seorang yang sangat ahli di bidang investasi. Namun sayang sekali, beliau lupakan satu hal, yaitu investasi melalui tulisan, atau lebih spesifik lagi adalah investasi melalui menulis buku.

Budaya menulis di negeri kita ini masih tergolong memprihatinkan. Di kalangan intelektual seperti dosen misalnya, mereka lebih cenderung banyak mengajar dari pada banyak meneliti. Atau kalau lebih general dapat dikatakan budaya bicara lebih kuat dari pada budaya menulis. Ini tentunya bukan tanpa sebab. Lingkungan dan sistem insentif yang ada lebih berpihak pada pembicara hebat, dari pada penulis hebat. Di samping itu, faktor pembentukan kebiasaan sejak pendidikan dini juga berpengaruh.

Saat saya tinggal di Australia beberapa tahun yang lalu, anak-anak saya yang masih duduk di sekolah dasar (elementary school) setiap minggu selalu mendapatkan tugas dari gurunya untuk menulis yang berkaitan dengan “theme of the week”, yaitu tema-tema tertentu yang menjadi prioritas dalam satu minggiu tertentu. Misalnya theme of the week pada saat itu adalah “courtesy” atau sopan santun, maka murid-murid diminta menuliskan sopan santun yang mereka lakukan selama satu minggu tersebut. Murid sudah dilatih melakukan riset sejak dini, dan kemudian dituangkan dalam laporan yang tertulis. Jadi, mereka terbiasa menulis sejak dini.

Yang paling heboh adalah apabila para murid liburan sekolah. Mereka akan mendapatkan tugas menulis “my holiday”. Saya amati hal ini merupakan proyek yang menggairahkan untuk mereka. Mereka membuat laporan tentang liburan mereka dengan sangat serius, bahkan beberapa sampai membuat semacam buku, dengan ketebalan seperti layaknya sebuah buku. Buku made in anak-anak SD yang masih lucu-lucu tersebut dibuat semenarik mungkin. Tulisan yang mereka buat disertai ilustrasi dan foto-foto atau gambar yang mereka buat sendiri.

Hari pertama masuk sekolah, presentasi tentang “my holiday” merupakan saat yang sangat mereka tunggu-tunggu. Mereka mempresentasikan pengalaman masing-masing dengan teknik presentasi yang bervariasi. Buku mereka tentang “my holiday” dibaca teman-teman sekolahnya. Anak-anak dibiasakan untuk menulis dan membaca tulisan orang lain, yang ujung-ujungnya adalah mereka dilatih menghargai karya orang lain.

Kembali lagi ke dosen hebat yang tidak menulis tadi. Kisahnya hanya berhenti sampai beliau mengajar yang sebagian besar dilakukan dalam bentuk lisan. Dosen berbicara mahasiswa mendengarkan. Memang sangat efektif untuk zamannya, namun sayang sekali ajaran-ajarannya tidak diabadikan dalam bentuk sebuah buku. Akibatnya, generasi berikut tidak mendapatkan warisan dari kehebatan dosen tersebut. Sayang sekali memang. Seandainya beliau saat itu menulis buku, maka saat karyanya dibaca orang dan bermanfaat bagi orang lain, hal tersebut juga akan menjadi ladang ibadah walaupun beliau sudah meninggal dunia.

Buku yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah, yang terus bergulir walaupun penulisnya telah meninggal dunia. Dalam hati saya sering bercanda dengan diri sendiri, “Wah, kalau begitu menulis bisa mengurangi masa hukuman di neraka hehehe….”

Zaman sudah berubah. Budaya lisan tampaknya mulai tersisihkan oleh budaya tulisan. Telepon yang tadinya digunakan untuk berbicara secara lisan dengan lawan bicara, saat ini sudah bergeser fungsi menjadi alat komunikasi melalui tulisan, yaitu dengan maraknya penggunaan SMS. Komunikasi melalui tulisan digencarkan lagi dengan teknologi internet melalui fasilitas chating. Maraknya penggunaan Facebook juga menunjukkan bahwa saat ini sebenarnya kita memiliki kesempatan luas untuk mengungkapkan pemikiran, ide, bahkan perasaan melalui tulisan.

Facebooker sudah terbiasa mengungkapkan perasaan, pemikiran, ide, dan menyampaikan informasi mereka melalui menuliskan pada “status” yang ada pada Facebook. Mereka menulis satu dua kata, satu dua kalimat. Jadi, mereka sudah sangat terbiasa dengan menulis. Kalau sudah begini, tampaknya tidak zamannya lagi para intelektual tidak menulis. Dosen mesti menulis. Mahasiswa mesti menulis. Kyai mesti menulis. Pendeta mesti menulis. Manajer mesti menulis. Siapa saja mesti menulis. Saat ini, hampir semua orang menjadi penulis. Minimal penulis SMS. Ini good start! Tinggal dikembangkan menjadi kalimat yang lebih utuh. Kalimat digabungkan dan dirangkai akan membentuk paragraf, dan seterusnya yang akhirnya akan menjadi tulisan, bukan?

Sekarang zamannya menulis. Maka, menulislah![ap]

Referensi:

Judul: Menulislah!
Oleh: Agung Praptapa
Dimuat di: ANDA LUAR BIASA Edisi December 23rd, 2009
http://www.andaluarbiasa.com/menulislah

Posted by on February 24th, 2011 56 Comments

Time Management that Works (2): Sederhana!

Oleh: Agung Praptapa*

Waktu terus berputar. Ungkapan tersebut untuk menunjukkan kepada kita bahwa waktu adalah sumber daya (resources) yang sangat berharga. Satu detik saja kita lewati, itu akan menjadi sejarah. Saat kita sedang menyetir mobil misalnya. Kita mengantuk, tetapi kita memutuskan bertahan menyetir mobil tersebut karena tanggung, sebentar lagi sampai. Ternyata, dalam satu detik kita terlelap, tertidur. Dan, crash…! Mobil kita menabrak pohon. Keputusan yang salah dalam “satu detik” saja membuat kita berbeda.

Tadinya kita adalah orang kuat yang sedang menyetir dan satu detik kemudian sudah berubah menjadi “korban kecelakaan” yang tidak berdaya. Demikian seterusnya, waktu terus berjalan. Keputusan demi keputusan harus kita buat. Salah mengambil keputusan akan membuat kita menjadi manusia yang berbeda. Di sini kita bisa melihat bahwa menajemen waktu pada hakikatnya adalah manajemen diri.

Manajemen waktu yang efektif harus disertai dengan manajemen diri yang baik. Mari kita mulai dengan perencanaan waktu yang juga harus disertai dengan perencanaan diri tentunya. Kata kunci agar perencanaan waktu efektif adalah bahwa perencanaan tersebut harus “sederhana”. “Tugas kita adalah berusaha sedangkan keputusan final ada ditangan Tuhan.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa di dunia ini tidak ada kepastian yang 100 persen karena keputusan terakhir ada di tangan Tuhan. Untuk itulah, perencanaan yang sangat rumit akan menjadi tidak berarti apabila ternyata apa yang terjadi dalam jangka pendek ternyata sudah berbeda dengan apa yang direncanakan.

Kalau hal tersebut terjadi, berarti kita harus menyusun kembali rencana yang rumit tersebut dengan rencana berikutnya. Tetapi, kalau perencanaan yang kita buat sederhana, perbedaan yang kecil dalam pelaksanaan tidak menuntut perubahan perencanaan. Seperti apa perencanaan yang sederhana itu?

Pertama, perencanaan yang sederhana adalah yang mengandung gambaran masa depan yang bisa diungkapkan dalam kalimat sederhana. Saat anak kecil ditanya, “Ingin jadi apa kamu kalau besar nanti?” Mereka akan menjawab dengan sangat jelas, “Aku mau jadi dokter”, “Aku mau jadi pilot”. Jelas dan sederhana sekali gambarannya. Coba kita tanyakan pada diri sendiri, ingin menjadi apa kita nanti? Jawabannya akan sangat rumit. Padahal, seharusnya sudah semakin jelas karena keadaan kita saat ini sudah tergambar jelas. Tetapi, yang kita inginkan di masa depan kita kan banyak?

Boleh saja. Kita boleh saja ingin menjadi profesor dan menjadi penulis. Boleh juga menjadi pengusaha, pembicara, dan penyanyi. Silakan, mau sedikit boleh, mau banyak juga boleh. Yang penting di sini bukan banyak atau sedikit, tetapi mudah digambarkan.

Kedua, perencanaan yang sederhana adalah yang mudah didokumentasikan. Beberapa penulis maupun trainer mengenai manajemen waktu sering memberikan metode manajemen waktu dengan menggunakan tabel-tabel yang rumit. Kita diwajibkan untuk selalu memegang pena, untuk mengisi kolom ini dan itu, membuat analisis dengan metode ini dan itu, yang hanya membuat kita sibuk melakukan pekerjaan administrasi tentang bagaimana kita akan “mengisi” waktu kita.

Saya tidak menyalahkan metode tersebut, karena kalau kita mampu mengerjakan, itu memang akan membuahkan dokumentasi manajemen waktu yang baik dan rapi. Hanya saja, pengalaman menunjukkan bahwa kebanyakan orang yang disibukkan dengan masalah dokumentasi dan administrasi biasanya hanya mampu melakukannya di awal-awal program pelatihan saja. Setelah beberapa waktu mereka akan merasa kerepotan.

Untuk mengatasi kerepotan ini sebenarnya kita bisa dibantu dengan teknologi handphone. Saat ini, hampir semua orang memiliki handphone. Fasilitas note, calender, atau task yang ada di handphone akan membantu kita agar tidak kerepotan mendokumentasikan rencana kita. Bagaimana memanfaatkan fasilitas tersebut akan kita bicarakan kemudian.

Ketiga, perencanaan yang sederhana harus menempatkan diri kita sebagai “manusia”, bukan mesin. Sebagai manusia kita perlu istirahat, perlu menyapa orang, terkadang gelisah, terkadang sangat optimistik, suka makanan dan minuman yang enak, ingin menonton TV, dan sebagainya. Keadaan tersebut tidak memungkinkan kita untuk “diprogram” seperti mesin. Kalau mesin bisa kita program dengan presisi yang sangat tinggi, jam sekian harus menyala, setelah jam sekian dan sekian detik harus mati. Perencanaan yang manusiawi tidak mungkin dengan presisi yang demikian tinggi. Ada toleransinya. Hanya saja, yang harus kita jaga adalah jangan sampai toleransi tersebut membuat kita menjadi sembarangan, tanpa target waktu.

Memang beberapa orang pernah mencoba perencanaan waktu yang sangat presisi, disertai dengan menit dan detik. Dari satu rencana ke satu rencana dirancang dengan sangat kaku sehingga seperti manusia robot. Dalam satu atau dua hari mungkin orang tersebut bisa bertahan dengan perencanaannya, namun setelah beberapa hari akan kecapaian. Dan, bisa jadi malahan membenci perencanaan waktu karena merasa sangat terikat dan tertekan. Jangan sampai karena sedang dalam suatu misi pekerjaan dengan presisi yang sangat tinggi, kita malah tidak punya waktu untuk menyapa dan bersalaman dengan teman kantor.

Tiga hal tersebut merupakan landasan untuk perencanaan waktu yang sederhana. Perencanaan waktu harus mudah digambarkan, mudah didokumentasikan, dan manusiawi. Perlu contoh yang konkret? Baik! Mari kita ikuti contoh ini. Ikuti langkah-langkah yang disarankan di sini.

Pertama, gambarkan dengan jelas Anda ingin menjadi apa dalam 10 tahun yang akan datang. Gambarkan saja dengan jelas, tidak usah malu-malu. Toh itu juga gambaran untuk diri sendiri. Misalnya, Anda ingin menjadi penulis terkenal. Gambarkan saja penulis terkenal itu seperti apa. Menulis, memublikasikan buku, menjadi pembicara tentang bukunya, dan seterusnya. Pentingkah ini? Sepuluh tahun kan masih lama? Memang masih lama, tetapi waktu juga berjalan begitu cepat.

Tanpa gambaran cita-cita—misalnya menjadi penulis hebat—yang jelas, bisa-bisa kita terperanjat karena setelah 10 tahun berlalu, kita kok belum pernah menghasilkan tulisan. Belum pernah nulis buku. Gambaran yang jelas tentang ingin menjadi apa kita nantinya merupakan referensi utama kita untuk perencanaan tahunan, bulanan, mingguan, dan harian.

Kedua, setiap Anda mendapatkan informasi yang mengharuskan Anda hadir atau menyelesaikan pekerjaan tertentu, langsung dicatat. Ingat, catatan harus sesederhana mungkin. Kalau demikian, perlukah kita selalu membawa catatan ke mana pun kita pergi? Idealnya memang demikian, tetapi kita kok menjadi seperti wartawan ya, ke mana-mana bawa buku catatan. Beberapa orang juga tidak nyaman dengan selalu membawa catatan ke mana pun mereka pergi.

Untuk itu, saya sarankan Anda memanfaatkan fasilitas yang ada dalam handphone Anda. Kecenderungan sekarang hampir semua orang setiap saat membawa handphone. Kebiasaan ini sangat menguntungkan untuk mengelola waktu Anda. Gunakan fasilitas tersebut, sesederhana apa pun handphone Anda, pasti ada fasilitas untuk mencatat. Apalagi kalau Anda terbiasa dengan PDA (Personal Digital Assistance), handphone yang memang dirancang untuk menjadi sekretaris pribadi Anda.

Fasilitas pengaturan waktu (calendar) yang ada pada setiap PDA harus Anda manfaatkan. Catatan minimal yang harus Anda tulis adalah tanggal dan jamnya. Pada saat sekarang, semurah apa pun HP kita sudah difasilitasi dengan fasilitas calendar. Jadi, tidak anda alasan lagi untuk tidak mencatat apa yang harus kita kerjakan pada waktu-waktu tertentu.

Ketiga, luangkan waktu setiap hari untuk melihat catatan Anda hari ini dan beberapa hari mendatang. Kalau jadwal Anda penuh, aturlah sejak pagi agar semuanya bisa dilaksanakan dengan baik. Dengan baik? Ya, kita harus memiliki target untuk mengerjakan jadwal kita dengan hasil yang baik, tidak sekadar melaksanakan. Jadwal harian merupakan kunci utama kesuksesan Anda dalam mengatur waktu.

Bagaimana kalau pada hari tersebut kita tidak memiliki acara tertentu yang harus kita kerjakan? Nah, di sini pentingnya kita memiliki gambaran yang jelas kita ingin menjadi apa. Kalau tidak ada skedul yang sifatnya “harus”, segera skedulkan pekerjaan-pekerjaan yang akan menuju tercapainya tujuan kita, yaitu kita ingin menjadi apa di masa yang akan datang.

Keempat, sesibuk apa pun kita, kita harus bisa mencanangkan target untuk menuju tercapainya apa yang kita inginkan. Saya berikan contoh, seorang penulis terkenal yang saya kenal, Andrias Harefa, menargetkan dirinya menulis satu halaman dalam satu hari. Gunanya sistem target ini adalah adanya fleksibilitas saat kita menjalankan aktivitas kita. Seperti target Andrias Harefa tadi, misalnya dalam satu hari ia mampu menulis sampai tiga halaman. Itu berarti dalam dua hari ke depan ia bisa free tidak menulis karena targetnya sudah tercapai. Jadi, orientasi target di sini bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga untuk mencapai hasil. Result oriented!

Kelima, laksanakan dengan penuh disiplin. Sekali sudah kita jadwalkan, kita harus penuhi. Ini adalah bagian dari menghargai diri sendiri. Dalam nanajemen waktu kita membuat perintah kepada diri sendiri untuk mengerjakan sesuatu pada waktu tertentu. Jadi, penuhi perintah kita sendiri. Kalau kita sendiri tidak menuruti perintah yang kita keluarkan, apa lagi orang lain?

Setiap kali kita selesai mengerjakan sesuatu sesuai dengan jadwal, hela napas sebentar. Anda boleh memuji diri sendiri bahwa “You do a good job!” Boleh kan memberi penghargaan pada diri sendiri? Ini akan mengisi semangat Anda kembali (recharging the spirit) untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berikutnya dengan baik.

Selamat mencoba dan atur waktu Anda sebaik-baiknya, kerjakan sebaik-baiknya, dan kemudian lihat apa yang terjadi. Sukses![ap]

Referensi:

Judul: Time Management that Works (2): Sederhana!
Oleh: Agung Praptapa
Dimuat di: ANDA LUAR BIASA Edisi October 21st, 2009
http://www.andaluarbiasa.com/time-management-that-works-2-sederhana

Posted by on February 24th, 2011 35 Comments

Time Management that Works (1)

Oleh: Agung Praptapa

“Orang sukses mengendalikan waktu, bukan dikendalikan oleh waktu.”

~ Agung Praptapa

“Hari gini masih bicara manajemen waktu?” Pertanyaan tersebut menggoda saya untuk tidak menulis topik ini. Masalah manajemen waktu tampaknya sangat klasik dan sudah banyak orang yang membahas. Namun demikian, dari hari ke hari bahkan sampai sampai saat ini pun, saya masih sering mendapatkan pertanyaan berkenaan dengan bagaimana mengatur waktu agar efektif.

Tidak hanya itu, saya sendiri masih saja sering menghadapi problema tentang mengatur waktu. Sampai sekarang, saya terus mencari formula yang tepat agar waktu yang terbatas ini dapat saya manfaatkan secara efektif. Jadi, masih mau membahas mengenai manajemen waktu? Saya nyatakan YA. Karena ini perlu!

Manajemen waktu yang sudah sering dibahas sejak dahulu kala ini ternyata terus diminati banyak orang. Kursus mengenai manajemen waktu tetap eksis sampai saat ini di Amerika. Hampir semua perguruan tinggi di Amerika memberikan materi manajemen waktu pada masa orientasi mahasiswa baru. Hal itu juga dilakukan di perguruan tinggi di negara lain, termasuk di Indonesia. Tampaknya, topik manajemen waktu tidak pernah usang.

Manajemen waktu berkenaan dengan bagaimana kita mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari waktu yang terbatas ini. Sehari adalah 24 jam, tidak kurang dan tidak lebih. Satu minggu hanya tujuh hari. Tidak bisa kurang dan tidak bisa lebih. Pertanyaannya sekarang, seberapa besar kita bisa menghasilkan nilai dan manfaat (value and benefit) dari apa yang kita kerjakan dalam kurun waktu yang terbatas tersebut?

Manajemen waktu bukan sekadar merencanakan dan melaksanakan apa yang akan dikerjakan pada saat dan kurun waktu tertentu. Yang lebih penting, akan menghasilkan apa pada kurun waktu yang telah ditentukan tersebut? Jadi, manajemen waktu tidak sama dengan sekadar mengisi waktu. Manajemen waktu berkenaan dengan seberapa besar nilai dan manfaat yang akan kita hasilkan dalam kurun waktu tertentu. Manajemen waktu harus result oriented.

Ciri-ciri Waktu

Waktu adalah sumber daya yang apabila tidak dimanfaatkan akan segera menjadi usang. Sebagai ilustrasi misalnya, kita diberi makanan yang harus dimakan saat itu juga, yang kalau tidak dimakan akan segera busuk. Kita akan diberi barang berharga, uang yang banyak misalnya, tetapi apabila kita tidak menerima pemberian tersebut pada saat itu juga, maka uang tersebut akan diberikan pada orang lain. Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa sekali kita tidak memanfaatkan waktu, waktu tersebut akan sirna.

Waktu tidak bisa diputar ulang. Waktu yang telah berlalu akan segera menjadi sejarah. Oleh karenanya, tinggal kita ingin tercatat dalam sejarah sebagai apa. Kalau kita dalam satu jam yang baru saja berlalu kita tidak mengerjakan apa-apa, sejarah akan mencatat bahwa kita dalam satu jam tersebut tidak mengerjakan apa-apa. Bayangkan saja bahwa perjalanan hidup kita selalu terekam atau tercatat dengan baik dan detail. Kemudian lihatlah catatan apa yang kita kerjakan. Tonton rekaman tentang apa yang kita perbuat. Itulah sejarah hidup kita. Tidak bisa diulang. Apa lagi dihapus.

Waktu tidak bisa dihentikan. Unstopable. Tidak bisa di-pause. Ia akan terus menggelinding dan tidak ada titik berhentinya. Mungkin waktu hanya berhenti saat kiamat nanti. Semua keputusan hidup kita berada di dalam bola waktu yang terus mengelinding. Kita tidak bisa menghentikan waktu, tetapi waktu bisa menghentikan perjalanan hidup kita (sorry to say ditandai dengan kematian manusia).

Meskipun waktu terus menggelinding tanpa henti, waktu tetap bisa kita kendalikan. Sekuat-kuatnya gajah—apabila kita mampu mengendalikannya—gajah tersebut dapat kita manfaatkan untuk tujuan kita. Seganas-ganasnya singa—kalau kita bisa mengendalikannya—juga akan dapat kita manfaatkan. Waktu juga demikian. Meskipun waktu begitu konsisten dan terus melaju, tetapi kalau kita bisa mengendalikannya, waktu bahkan akan menjadi alat kita untuk mendapatkan apa yang kita mau. Orang sukses mengandalikan waktu, bukan dikendalikan oleh waktu.

Mengendalikan Diri dalam Putaran Waktu

Benarkah waktu bisa kita kendalikan? Bukannya waktu akan berjalan terus tanpa seorang pun bisa menghentikannya? Iya, benar. Kita tidak bisa menghentikan perjalanan waktu. Oleh karenanya, mengendalikan waktu bukan berarti waktu bisa kita percepat atau kita perlambat. Yang dimaksud mengendalikan waktu adalah mengendalikan diri di dalam putaran waktu yang ada. Sama halnya dengan manajemen waktu. Manajemen waktu adalah manajemen diri dalam putaran waktu yang ada.

Saya sering berimajinasi melakukan akrobat, di mana saya harus bergelantungan pada sebuah kincir yang terus berputar. Sementara, saya bersama tim akrobat lain harus berpegangan pada kerangka kincir tersebut agar tidak jatuh. Kincir terus berputar, sedang kami harus melakukan atraksi pada kincir tersebut. Kita harus pandai-pandai mengendalikan diri agar tidak terjatuh. Mengendalikan waktu logikanya sama dengan melakukan atraksi pada kincir yang sedang berjalan. Agar selamat kita harus pandai-pandai mengendalikan diri pada putaran waktu yang ada.

Seberapa jauh pentingnya mengendalikan diri dalam manajemen waktu? Manajemen waktu tidak jauh berbeda dengan konsep manajemen pada umumnya. Secara umum proses manajemen meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian. Manajemen waktu juga demikian. Manajemen waktu meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian waktu. Kita akan bahas satu-persatu dalam tulisan seri berikutnya.[ap](bersambung)

Referensi:

Judul: Time Management that Works (1)
Oleh: Agung Praptapa
Dimuat di: ANDA LUAR BIASA Edisi September 8th, 2009
http://www.andaluarbiasa.com/time-management-that-works-1

Posted by on February 24th, 2011 50 Comments

Berhentilah Khawatir pada Kelemahan Diri

Oleh: Agung Praptapa

Tak ada manusia yang sempurna. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Inilah yang membuat seseorang itu “khas”, unik, atau berbeda antara satu dengan lainnya. Di samping memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda, cara orang memandang kelebihan dan kekurangannya juga berbeda-beda. Ada orang yang sangat khawatir dengan kelemahan dirinya. Sedangkan di lain pihak, ada juga orang yang memiliki kelemahan yang sama, tetapi tidak begitu memikirkannya. Sebaliknya, ada orang yang mendayagunakan kelebihan yang dimilikinya semaksimal mungkin, namun ada pula orang yang tidak menyadari kelebihannya.

Dalam beberapa kasus ada orang yang sadar dengan kelebihan dan kekurangannya, namun ada pula yang tidak sadar akan kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ada pula orang yang menyadari kelebihan dan kekurangannya secara tidak seimbang. Bisa sadar tentang kelebihannya, namun tidak sadar atas kekurangan yang dimilikinya. Sebaliknya, ada orang yang sadar pada kekurangannya, tetapi tidak sadar atas kelebihannya. Jadi, bagaimana seharusnya?

Yang paling baik tentunya kita sadar atas kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki. Selanjutnya, kita harus pandai-pandai mengelolanya. Jadikan kelebihan kita sebagai pendorong. Jadikan kelebahan kita sebagai pemacu.

Mangonversi Kekurangan Menjadi Kelebihan

Dalam suatu pelatihan personal empowerment saya minta kepada para peserta untuk membuat daftar kelebihan dan daftar kekurangan yang mereka miliki. Saya minta mereka membuat daftar yang sebanyak-banyaknya dalam waktu yang telah saya tentukan. Hasilnya beragam. Beberapa peserta menulis seimbang antara kelebihan dan kekurangan. Beberapa peserta lainnya mendapatkan kelebihan lebih banyak dari kekurangannya. Dan, sebagian lainnya menulis kelebihan lebih sedikit dari kukurangannya. Yang mengherankan, sebagian besar peserta mampu menulis daftar kekurangan begitu banyaknya, tetapi tidak mampu menuliskan daftar kelebihan yang dimilikinya.

Di sini saya bisa melihat bahwa banyak orang yang terlampau berfokus pada kekurangan atau kelemahan yang dimilikinya. Mereka ahli dalam melihat kekurangannya, berfokus kepada kelemahannya, melupakan kelebihannya, sehingga mereka menjadi gelisah, tidak percaya diri, dan bahkan sampai depresi. Kekurangan yang mereka miliki rasanya seperti seperti sesuatu yang abadi yang tidak bisa berubah dan diperbaiki.

Seharusnya, kita bisa menyikapi kekurangan yang kita miliki secara arif. Bukankah semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan? Semestinya kita adil terhadap keduanya. Kekurangan yang kita miliki adalah sesuatu yang wajar. Kita terima saja bahwa itu adalah kekurangan. Namun, harus pula diingat bahwa tidak ada sesuatu yang abadi. Kalau kita benar-benar mau sekuat hati, apa sih yang tak bisa? Jadi, setelah kita terima dengan lapang dada kekurangan yang kita miliki, langkah berikutnya adalah berkomitmen pada diri sendiri bahwa kita ingin mengubah “kelemahan” yang kita miliki menjadi sesuatu “kekuatan”. Bisakah kita mengubah “kekurangan” menjadi “kelebihan?” Bisa saja kalau kita tahu caranya.

Langkah yang pertama untuk mengubah “kelemahan” menjadi “kekuatan” adalah dengan menemukan “lawan kata”-nya. Misalnya, kelemahan kita adalah “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar, maka lawan katanya adalah “bisa” berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar. Kalau kelemahan kita adalah “takut” membuka usaha, lawannya adalah “berani” membuka usaha. Lakukan seterusnya dari daftar kekurangan atau kelemahan yang kita miliki. Cari lawan katanya.

Langkah berikutnya adalah membayangkan kenikmatan yang bisa kita peroleh apabila kita memiliki kelebihan yang merupakan konversi dari kekurangan seperti yang telah kita lakukan pada langkah pertama. Bayangkan saja! Enyahkan perasaan tidak bisa. Biarkan pikiran kita “liar” berimajinasi tentang nikmatnya apabila kita memiliki kelebihan tersebut. Imajinasikan dengan sebebas-bebasnya. Kalau hati kita sudah mulai bertanya “Apa bisa?”, langsung saja bentak kata hati itu dengan tegas bahwa kita pasti bisa. Pasti bisa!

Dalam hal mengubah dari “tidak bisa” berbicara dalam bahasa Inggris menjadi “bisa”—seperti dicontohkan di atas—kita bisa bayangkan bahwa kita sedang berdiskusi dengan orang bule dengan menggunakan bahasa Inggris. Bayangkan kita berbicara dalam seminar memakai bahasa Inggris. “Uff, hebatnya gue!” Mungkin begitu kita bisa katakan pada diri sendiri tentang hebatnya dan nikmatnya saat kita bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan lancar.

Selanjutnya, temukan cara bagaimana supaya kita bisa pada keadaan seperti yang kita bayangkan. Dalam contoh menjadi bisa berbahasa Inggris, kita coba temukan cara supaya kita menjadi bisa berbahasa Inggris. Tentu banyak cara untuk bisa berbahasa Inggris. Kita bisa menghafalkan lagu barat, menghafalkan percakapan, menghafalkan satu kata baru setiap hari, selalu berbahasa Inggris saat berbicara dengan orang lain yang bisa berbahasa Inggris, dan masih banyak lagi. Menemukan cara cerdas untuk “bisa” adalah suatu keterampilan tersendiri. Semakin sering dilatih semakin mudah kita melakukan. Cari cara kreatif untuk bisa.

Berikutnya adalah kita lakukan “eksekusi” terhadap cara-cara yang telah kita temukan tersebut. Di sini lakukan dulu yang paling mudah, yang bisa kita lakukan segera. Misalnya, cara yang paling mudah untuk berbicara dalam bahasa Inggris adalah dengan menghafalkan lagu, kita tinggal “laksanakan”. Hafalkan lagu, nyanyikan berulang-ulang, tiru bagaimana penyanyi aslinya melafalkan setiap kata. Dengan demikian kita menjadi tidak asing dengat kata-kata yang ada dalam lagu yang kita hafalkan tadi. Kalau kita nyanyikan berulang kali dengan lafal seperti penyanyi aslinya maka otot-otot mulut kita akan terbiasa dengan kata-kata tersebut.

Kita bisa juga sambil mencoba cara lain untuk bisa berbahasa Inggris. Dengan menghafalkan percakapan misalnya. Saya punya teman yang hebat dalam berbahasa Inggris yang cara belajarnya adalah dengan menonton film dan menghafalkan percakapan-percakapan yang menarik. “Mau berapa banyak sih kata-kata yang kita gunakan dalam berkomunikasi?” begitu kata dia saat menjelaskan kiat-kiatnya belajar berbahasa Inggris. Menurut dia, dalam berkomunikasi kita akan menggunakan kata-kata yang sebenarnya itu-itu saja. Ada variasinya tentunya, tetapi tidak banyak. Apa pun alasannya tidak masalah. Yang penting bagaimana kita bisa berbahasa Inggris dengan baik dan benar.

Sebagai kesimpulan, berhentilah khawatir tentang kelemahan kita. Stop worrying about your weaknesses. Mari kita konversi kelemahan menjadi kekuatan. Kita konversi dari kekurangan menjadi kelebihan. Kalau kita mau, apa sih yang tidak bisa? Kita pasti bisa![ap]

Referensi:

Judul: Berhentilah Khawatir pada Kelemahan Diri
Oleh: Agung Praptapa
Dimuat di: ANDA LUAR BIASA Edisi August 25th, 2009
http://www.andaluarbiasa.com/berhentilah-khawatir-pada-kelemahan-diri

Posted by on February 24th, 2011 457 Comments

Mau Jadi Manajer Hebat? Ini Kiatnya!

Oleh: Agung Praptapa*

Anda mau menjadi manajer yang hebat? Yang dihormati kawan maupun lawan? Yang memotivasi anak buah? Yang selalu dibutuhkan? Hahaha.… Saya punya tips-nya. Tetapi, ini RAHASIA ya… khusus buat Anda. Mengapa rahasia? Karena rumusnya sangat mudah. Kalau semua orang tahu, entar ditiru. Jadi, ini khusus buat Anda saja.

Memangnya, apa sih rahasia menjadi manajer yang hebat itu? Nah, ini yang akan saya sampaikan. Tetapi, karena ini RAHASIA, maka Anda jangan main-main dalam memahami dan mempraktikkannya. Karena, ini cespleng! Enggak sabar menunggu? Hahaha… ayo kita mulai.

Rahasianya sederhana tetapi powerful, yaitu dengan menggunakan teknik “seperti”. Apa itu? Berpenampilan seperti manajer, berpikir seperti manajer, bertindak seperti manajer, dan bekerja seperti manajer. Jadi, serba “seperti”. Untuk itulah maka cara ini disebut teknik “seperti”.

Berpenampilan Seperti Manager

Berpenampilan seperti manajer? Iya. Kalau sekarang Anda sudah manajer ya… sudah pasti harus berpenampilan seperti manajer. Kalau Anda sekarang belum manajer, berpenampilan seperti manajer akan membawa Anda mendekat ke posisi manajer. Yang bener saja? Iya. Ini bukan main-main. Berpenampilan seperti yang Anda inginkan merupakan magnet tersendiri. Akan ada kekuatan yang menarik Anda ke posisi yang Anda inginkan.

Apakah ada peraturan khusus di kantor Anda tentang berpakaian atau pemakaian atribut antara yang manajer dengan yang bukan manajer? Kalau ada, tentu saja Anda jangan memaksakan diri. Ambil saja yang bisa. Misalnya, di kantor Anda hanya tingkatan manajer yang boleh berdasi. Kalau memang demikian, Anda tidak perlu memaksakan diri berdasi, tetapi berpakaianlah yang rapi seperti manajer. Gunakan parfum yang elegan seperti manajer. Bersepatu yang bersih dan berkilat seperti sepatu manajer.

“Tetapi manajer di tempat saya bekerja tidak rapi. Tidak berparfum. Penampilannya apa adanya,” begitu mungkin keadaan di beberapa kantor atau tempat Anda berkerja. Kalau memang demikian, kembalikan pada imajinasi Anda tentang penampilan seorang manajer itu seperti apa. Penampilan manajer sebuah bank akan berbeda dengan penampilan seorang manajer produksi suatu pabrik. Penampilan mereka berbeda karena jenis pekerjaannya juga berbeda. Yang terpenting di sini adalah bukan melihat “apa yang sekarang ada” di tempat kerja Anda, tetapi lebih kepada “apa yang seharusnya ada”.

Berpikir Seperti Manajer

Kalau Anda mau menjadi seorang manajer yang hebat, berpikirlah seperti halnya seorang manajer yang hebat. Pelajari cara berpikir para manajer hebat. Tidak harus manajer yang sudah ada di tempat kerja Anda. Bisa juga manajer dari tempat kerja lain, yang menurut Anda layak dijadikan standar sebagai manajer yang hebat. Harus mempelajari cara berpikir manajer secara langsung dengan melihat orangnya? Tidak. Kita bisa mempelajari dari buku, kisah sukses yang dipublikasikan di berbagai media, dan cerita orang lain yang menginspirasi Anda.

Seorang manajer hebat pada umumnya berpikir cerdas, cermat, tegas, kritis, mengandung solusi, kreatif, dan silakan Anda buat daftar sendiri seperti apa sebenarnya cara berpikir seorang manajer yang hebat itu. Tidak perlu ragu meniru hal-hal yang baik, yang positif. Amati, tiru, dan modifikasi untuk menjadi yang lebih baik.

Bertindak Seperti Manajer

Coba kita amati bagaimana manajer hebat bertindak? Mereka pada umumnya bertindak cepat, tegas, tidak membuang-buang waktu, melibatkan orang lain, memuji orang yang berprestasi, memberi arahan kepada yang memerlukan, memasang target yang jelas kapan pekerjaan harus selesai, lebih tenang dalam bertindak, percaya diri, dan silakan Anda teruskan!

Bertindak seperti manajer bukan berarti kita harus 100 persen meniru manajer di tempat kita kerja atau manajer lain yang menginspirasi kita. Yang diperlukan di sini adalah meniru cara bertindak mereka yang kita anggap positif. Kalau manajer di tempat kita bekerja memiliki kebiasaan negatif seperti menggaruk-garus kepala saat berbicara misalnya, hal ini tentu saja jangan ditiru.

Bekerja Seperti Manajer

Kalau Anda mau menjadi manajer yang hebat, bekerjalah seperti manajer yang hebat. Amati bagaimana manajer hebat bekerja. Tidak hanya cara mereka bekerja, tetapi juga bagaimana mengatur waktunya, bagaimana mereka melakukan kerja sama, bagaimana mereka berani bertanggung jawab atas bagian yang dipimpinnya, dan sebagainya. Manajer hebat pada umumnya bekerja sistematis, menepati janji, memiliki acara yang terencana dengan baik, memiliki catatan yang baik walaupun tidak harus dikerjakan sendiri, lebih berorientasi kepada hasil dari pada sekadar menjalankan tugas.

Bekerja seperti manajer bukan berarti kita bisa meniru 100 persen apa yang dikerjakan para manajer. Tugas dan wewenang antara manajer yang satu dengan lainnya berbeda. Demikian pula tugas dan wewenang antara yang manajer dan yang bukan manajer. Yang terpenting di sini adalah bagaimana kita bisa mengambil sisi postif dari bagaimana para manajer hebat bekerja yang bisa kita tiru dan kita kembangkan sesuai dengan tugas dan wewenang kita.

Aplikasi pada Kasus Lain

Teknik “seperti” bisa diaplikasikan pada kasus-kasus yang lain. Kalau kita ingin menjadi penulis yang hebat misalnya, bisa saja menggunakan cara ini. Kalau mau menjadi penulis yang hebat berpenampilanlah seperti penulis hebat, berpikir seperti penulis hebat, bertindak seperti penulis hebat, dan bekerja seperti penulis hebat. Kalau kita sudah bisa lakukan seperti apa yang dilakukan oleh penulis hebat bukannya kita juga sudah menjadi penulis hebat pula?

Teknik ini tentunya ada batasan etika dan aspek legalnya. Tidak bisa tentunya kalau kita ingin menajdi polisi yang hebat kemudian kita berpakaian seperti polisi. Jangan diterapkan secara hitam putih seperti itu. Terjemahkan hal ini dari sisi bagaimana kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan.

Jangan ragu-ragu menggunakan teknis “seperti” karena sudah banyak terbukti keberhasilannya. To be a good manager you should look like a manager, think like a manager, act like a manager, and work like a manager. Selamat mencoba, kita buktikan bahwa kita bisa menjadi manajer yang hebat![ap]

Referensi:

Judul: Mau Jadi Manajer Hebat? Ini Kiatnya!
Oleh: Agung Praptapa
Dimuat di: ANDA LUAR BIASA Edisi August 11th, 2009
http://www.andaluarbiasa.com/mau-jadi-manajer-hebat-ini-kiatnya

Posted by on February 24th, 2011 42 Comments